selamat datang

Kampus ku

Pesan Kami

DATA

Postingan
Komentar

Total Tayangan Halaman

Like Facebook


Senin, 05 Maret 2012

SAP Perawatan Hypospadia


SATUAN ACARA PENYULUHAN


Masalah : Sistem Perkemihan
Pokok Bahasan : Perawatan Penis di Rumah
Sub Pokok Bahasan : Perawatan Penis Post Chordektomy dan Uretroplasty
Sasaran : Pasien dan keluarga
Waktu : 10 Menit
I. Tujuan Intruksi Umum
Setelah di berikan penyuluhan selama 10 menit diharapkan sasaran memahami cara perawatan penis post chordektomy dan uretroplasty
II. Tujuan Intriksi Khusus
Pada akhir pembelajaran di harapkan sasaran dapat
1. Menyebutkan kembali pengertian perawatan penis
2. Menyebutkan kembali tujuan perawatan penis
3. Menyebutkan kembali alat alat yang harus dipersiapkan
4. Menyebutkan kembali faktor-faktor yang dapat membantu perawatan penis
5. Menyebutkan kembali cara perawatan penis yang benar

III. Materi Pendidikan
1. Pengertian perawatan penis
2. Tujuan perawatan penis
3. Alat yang harus dipersiapkan
4. Faktor-faktor yang dapat membantu perawatan penis
5. Cara perawatan penis yang benar
IV. Kegiatan Pembelajaran
1. Metode : Ceramah dan Memperagakan Langsung
2. Kegiatan : Tanya - jawab
3. Langkah- langkah kegiatan
a. Pembukaan (2 menit )
 Penyuluh materi memberi salam, sasaran menjawab salam
 Penyuluh memperkenalkan diri, sasaran mendengarkan
 Penyuluh menjelaskan pokok bahasan yang akan disampaikan, sasaran memperhatikan.
b. Kegiatan inti 5 menit
 Penyaji menyampaikan materi dengan memperagakan langsung, sasaran menyimak dan memperhatikan
 Penyaji memberikan kesempatan kepada sasaran untuk mengajukan pertanyaan sesuai materi
 Penyaji menjawab pertanyaan
c. Penutup ( 3 menit )
 Penyaji melakukan evaluasi tentang materi yang telah di sampaikan
 Penyaji menyampaikan kesimpulan materi, sasaran memperhatikan dan memahami materi
 Penyaji memberi salam penutup, sasaran menjawab salam.
V. Media dan Sumber
Media : Leaflet
Sumber :
VI. Evaluasi
1. Prosedur : Post Test
2. Butir Soal : 5 Soal
a. Menjelaskan apa pengertian perawatan penis
b. Menjelaskan tujuan perawatan penis
c. Menjelaskan alat yang harus dipersiapkan
d. Menjelaskan faktor-faktor yang dapat membantu perawatan penis
e. Menjelaskan cara perawatan penis yang benar
PERAWATAN PENIS DIRUMAH
A. Pengertian
Perawatan penis adalah suatu tindakan yang harus dilakukan yaitu dengan membersihkan dan merawat penis, untuk mencegah terjadinya infeksi yang tidak diinginkan. Sedini mungkin sampai luka pada penis benar – benar bersih sehingga tidak terjadi infeksi pada penis yang sudah di operasi.
B. Tujuan
1. Membersihkan penis dari kuman setelah buang air
2. Mempercepat proses penyembuhan
3. Memberikan rasa nyaman
4. Mencegah terjadinya pencemaran oleh cairan dan kuman yang berasal dari dari daerah sekitarnya.
5. Mencegah terjadinya infeksi
C. Alat-Alat Yang Harus Dipersiapkan
1. Kassa bersih
2. Air bersih yang sudah dimasak dengan matang
3. NaCl 0,9% dalam tempat bersih/air yang sudah mendidih benar bisa dipakai untuk mengganti NaCl 0,9%
4. Salep
5. Tempat sampah
D. Faktor-Faktor Yang Dapat Membantu Perawatan Pada Penis Setelah Dilakukan Tindakan Operasi Chordectomy dan Uretroplasty
1. Banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung Vitamin C. Contohnya : buah-buahan, sayuran yang hijau.
2. Meminum obat sesuai aturan yang ditetapkan. Apabila minum obat antibiotic harus tuntas dan habis.
3. Mencegah infeksi yang dapat menghambat penyembuhan penis setelah operasi dan selang kateter telah dibuka yaitu dengan cara menjaga kebersihan penis setelah buang air.
E. Cara Perawatan Penis Dirumah
1. Cuci tangan dengan air yang mengalir, gunakan sabun
2. Perhatikan penis apakah ada tanda-tanda infeksi seperti keluarnya nanah
3. Bersihkan penis setelah buang air dengan NaCl atau dengan air matang. Lalu keringkan dengan kasa bersih.Kemudian oleskan salep yang diresepkan dari rumah sakit. Oleskan salep disekitar jahitan.
4. Lakukan perawatan penis setelah setiap buang air.
5. Cuci tangan setelah melakukan tindakan.

SAP DIARE


SATUAN ACARA PENYULUHAN
Masalah : Kurangnya pengetahuan mengenai penyakit diare
Pokok bahasan : Diare
Sasaran : Pasien
Waktu : 20 menit
I. Tujuan Instruksional Umum ( TIU)
setelah diberi penyuluhan, klien mampu memahami tentang diare
II. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
setelah diberi penyuluhan selama 20 menit, sasaran dapat :
- Menyebutkan pengertian diare dengan benar tanpa melihat catatan atau leaf let
- Menyebutkan factor-faktor penyebab diare dengan benar tanpa melihat catatan atau leaf let
- Menyebutkan tanda dan gejala diare dengan benar tanpa melihat catatan atau leaf let
- Menyebutkan dampak dari diare dengan benar tanpa melihat catatan atau leaf let
- Menyebutkan cara pencegahan diare dengan benar tanpa melihat catatan atau leaf let
- Menyebutkan penanganan diare dengan benar tanpa melihat catatan atau leaf let
III. Pokok Materi
1. Pengertian diare
2. Faktor penyebab diare
3. Tanda dan gejala diare
4. Dampak dari diare
5. Pencegan diare
6. Penanganan diare
IV. Kegitan Belajar Mengajar
1. metoda :1. ceramah
2. diskusi
3. Tanya jawab
4. demonstrasi
2. langkah kegiatan
a. kegitan pra pembelajaran
1. mempersiapkan materi, media dan tempat
2. kontrak waktu
b. membuka pembelajaran
1. memberi salam
2. perkenalan
3. menyampaikan pokok bahasan
4. menjelaskan tujuan
5. aperspesi
c. kegiatan inti
1. – menyampaikan materi, sasaran menyimak
- sasaran mengajukan pertanyaan dan penyuluh menjawab pertanyaan
- sasaran dan penyuluh menyimpulkan
2. - penyuluh mendemonstrasikan pembutan LGG, sasaran menyimak
- penyuluh memberi kesempatan untuk mendemonstrasikan pembuatan LGG
d. penutup
1. memberikan pertanyaan
2. merangkum materi
3. memberi salam
V. Media Dan Sumber
-media : leaf let dan alat peraga
-sumber : buku ajar KMB
VI. Evaluasi
1. prosedur : - post test
2. jenis test : - pertanyaan secara lisan
butir-butir soal
1. sebutkan pengertian diare ?
2. sebutkan factor-faktor penyebab diare ?
3. sebutkan tanda dan gejala diare ?
4. sebutkan dampak dari diare ?
5. sebutkan cara pencegahan diare?
6. sebutkan cara penanganan diare?
VII. Lampiran Materi Dan Media
LAMPIRAN MATERI
A. PENGERTIAN DIARE
Diare adalah buang air besar encer dengan frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan juga sering disebut mencret
B. FAKTOR- FAKTOR PENYEBAB DIARE
- Makan makanan yang belum masak, atau makanan yang sudah basi
- Minum air mentah
- Tidak tahan terhadap makanan tertentu (alergi)
- Masuknya bibit penyakit kedalam perut, meliputi :
 Makan makanan yang teklah tercemar penyakit
 Tidak mencuci makanan sebelum makan
- Kekurangan gizi
- Daya tahan tubuh yang kurang
C. TANDA DAN GEJALA DIARE
- BAB encer lebih dari 3 kali perhari
- Badan lemas
- Nyeri perut
- Perut kembung
- Nafsu makan berkurang dan mual
D. DAMPAK DARI DIARE
- Penurunan berat badan
- Badan lemas dan mata cekung
- Menimbulkan kematian jika kehilangan cairan dan garam dibiarkan
E. PENCEGAHAN DIARE
- Gunakan selalu air bersih
- Buang air besar pada tempatnya
- Makanan bersih atau tidak tercemar
- Mencuci tangan sebelum makan
- Menggunakan alat makan yang bersih
- Mencuci bahan makanan dengan benar
F. PENANGANAN DIARE’
- Bawa ke petugas keseharan bila :
 BAB encer semakin sering dan dalam jumlah yang banyak
 Ada muntah berulang
 Demam yang tinggi
 Ada darah dalam tinja
 Tidak mau makan atau minum
- membuat larutan gula garam
 Alat : - gelas berukuran sedang
- alat pengaduk (sendok)
 Bahan : - alat pengaduk ( sendok )
- gula
- garam
 Cara :
larutkan satu sendok gula pasir dan ¼ sendok garam gelas berisi air matang (hangat atau dingin), kemudian aduk hingga merata dan diminum setiap kali setelah BAB/ mencret.

SAP HIPOGLIKEMI Diabetes Melitus



SATUAN ACARA PENYULUHAN
Diagnosa Kep. : Resiko terjadinya penurunan kesadaran disebabkan karena Hipoglikemi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan pengenalan dini Hipoglikemi
Pokok Bahasan : Hipoglikemi
Sub Pokok Bahasan : Pendidikan kesehatan pasien Diabetes Melitus
Sasaran : Pasien dan Keluarga
Waktu : 15 Menit
Tempat :
I. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan penyuluhan, sasaran dapat mengetahu dan memahami tentang hipoglikemi dan mampu melakukan pencegahan dan perawatan bila terjadi hipoglikemi.
II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan penjelasan selama 15 menit diharapkan sasaran dapat :
1. Menjelaskan tentang pengertian hipoglikemi
2. Menyebutkan tiga tanda hipoglikemi
3. Menyebutkan tiga penyebab hipoglikemi
4. Menjelaskan cara mengatasi bila terjadi hipoglikemi
III. Materi Belajar
1. Pengertian Hipoglikemi
2. Tanda tanda hipoglikemi
3. Penyebab hipoglikemi
4. Mengatasi bila terjadi hipoglikemi
IV Kegiatan Belajar Mengajar
A. Kegiatan Pra Pembelajaran
1. Menyiapkan ruangan dan media
2. Memberi salam
3. Kontrak waktu
B. Membuka Pembelajaran
1. Menjelaskan pokok bahasan
2. Apersepsi
C. Kegiatan inti
1. Sasaran mengemukakan pendapatnya tentang pengertian hipoglikemi
2. Sasaran menyimak penjelasan penyuluh tentang tanda-tanda hipoglikemi
3. Sasaran menyimak penjelasan penyuluh tentang penyebab hipoglikemi
4. Sasaran memperhatikan penjelasan penyuluh tentang cara mengatasi bila terjadi hipoglikemi
D. Penutup
1. Sasaran menjawab pertanyaan penyuluh sebagai evaluasi
2. sasaran dan penyuluh menyimpulkan materi yang disampaikan
3. Memberi salam
V. Metoda

· Ceramah

· Tanya-jawab
VI. Media
· Leaflet
VII. Evaluasi
· Prosedur : Post test
· Bentuk : Essay
· Jenis tes : Lisan
VIII. Sumber
- Haznam, Prof.Dr. M. W, 1991 Endokrinologi ; Angkasa Offset, Bandung
- Noer, Sjaefoellah, Prof.Dr. H.M, 1996; “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam“ Jilid I, Balai penerbit FKUI, Jakarta
IX. Lampiran
· Materi
· Post Test
· Leaflet
Lampiran Materi
A. Pengertian Hipoglikemi
Hipoglikemi adalah penurunan kadar gula darah dibawah normal, yaitu gula darah puasa kurang dari 70 mg/dl.
B. Tanda tanda hipoglikemi
Ø Bila sedang tidur mengalami mimpi buruk, gelisah dan berkeringat.
Ø Bila sedang terbangun merasakan lapar, mual, berkeringat, gemetar, sakit kepala, mata berkunang kunang, jantung berdebar, gugup dan bingung.
C. Penyebab Hipoglikemi
  • Penggunaan obat insulin
  • Olah raga yang berlebihan
  • Makanan yang kurang dari diet yang dibutuhkan
D. Usaha usaha mengatasi bila penderita diabetes mellitus mengalami hipoglikemi
1) Makan sumber gula halus, seperti setengah cangkir jus buah, setengah gelas air yang diberi 12 sendok makan gula pasir, m akan permen 4 biji.
2) Makan roti, susu atau biscuit
3) Periksa gula darah, jika masih dibawah normal atau gejala hipoglikemia menetap, ulangi makan roti, susu atau biscuit atau air manis

SAP PENYUNTIKAN INSULIN PADA DM



SATUAN ACARA PENYULUHAN
Diagnosa : Resiko terjadinya komplikasi akut berhubungan dengan defisit pengetahuan tentang pengelolaan dengan penyulit DM di rumah
Pokok Bahasan : Pengelolaan dengan penyulit DM dirumah
Sub Pokok Bahasan : Penyuntikan insulin secara mandiri dirumah
Sasaran : Pasien
Waktu : 20 Menit
I. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan penyuluhan, sasaran mampu memahami tentang penyuntikan insulin secara mandiri.
II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan penjelasan selama 20 menit diharapkan sasaran dapat :
1. Keluarga Pasien dapat mengetahui tentang pengertian insulin
2. Keluarga Pasien dapat melakukan penyuntikan insulin secara benar
3. Keluarga Pasien dapat menghitung jumlah cairan obat yang akan di suntikan/dosis
4. Keluarga Pasien Mengetahui lokasi atau tempat penyuntikan
5. Keluarga Pasien dapat mengerti atau memahami keterampilan tersebut
III. Pokok Materi

1. Pengertian Insulin secara kimiawi
2. Sifat – sifat insulin
3. Cara pemberian insulin
4. Cara penyuntikan insulin secara benar
5. Penghitungan pemberian insulin
6. Lokasi atau areal penyuntikan
IV. Kegiatan Belajar Mengajar
- Langkah – langkah kegiatan :
A. Kegiatan Pra Pembelajaran
1. Mempersiapkan materi, media dan tempat
2. Kontrak waktu
B. Membuka Pembelajaran
1. Memberi salam
2. Perkenalan
3. Menjelaskan pokok bahasan
4. Menjelaskan tujuan
5. Apersepsi
C. Kegiatan inti
1. Menjelaskan tentang pengertian insulin
2. Menjelaskan tentang sifat insulin
3. Menjelaskan tentang cara pemberian insulin
4. Memberikan penjelasan tentang lokasi insulin
D. Penutup
1. Menyimpulkan materi yang sudah di siapkan
2. Mengucapkan terimakasih kepada keluarga Ny. H
V. Metoda

· Ceramah

· Tanya-jawab
· Demontrasi pemberian insulin
VI. Media
  • Leaflet
VII. Sumber
- Barbara C.Long 1996, Perawatan Medikal Bedah,
- Dr.Hendra Utama 1991, Ilmu Penyakit Dalam
VI. Evaluasi
· Prosedur : Post test
· Jenis tes : Uji keterampilan dan tanya jawab
VII. Lampiran
· Materi
· Post Test
· Leaflet
Lampiran Materi
A. Pengertian
Insulin dihasilkan oleh sel beta pulau-pulau Langerhan pankreas. Masa seluruh pulau-pulau Langerhans mer upakan 1 – 3 % masaa pankreas dan secara embrio logis berasal dari exstoderm. Jumlahnya sekitar 100.000 s /d 2,5 Juta dan mengandung sel-sel beta yang mengekpresi insulin, sel alpa yang menghasilkan glukagon dan sel delta menghasilkan somatostatin, poli peptida pankrersa, serta sel neorondokrin. Pulau-pulau Langerhans pankreas dipersarapi oleh saraf simpatis dan saraf para simpatis.
B Sifat-Sifat Insulin :
Ada empat sifat insulin :
1. Cara kerja insulin : Insulin dikelompokan menjadi massa kerja otak, masa kerja sedang,dan massa kerja lambat.
2. Kekuatan insulin : sediaan insulin memiliki kadar unit insulin yang berbeda beda dalam satu ml polume. Insulin 100-U yang paling sering digunakan. Sedangkan yang paling kecil menggunakan insulin U-40, hal yang penting untuk menghindari kesalahan dalam pemberian dosis yang tepat ialah dengan selalu mencocokan kadar insulin dan kalibrasi semprit dalam satuan unyit / ml.
3. Sumber insulin : Sifat antigenesitas insulin dapat menurunkan aktivitas reseptor-reseptor insulin. Dahulu sediaan insulin yang dipakai berasal dari kombinasi pankreas sapi dan babi. Suatu insulin jenis tunggal yang berasal dari babi diperuntukan pasen alergi, kedua jenis insulin diatas menyerupai insulin manusia dan ada teknik buatan rekombinan DNA secara bakteriologis.
4. Kemurnian insulin : Insulin setandar dapat mengandung subtansi subtansi yang mirip pro insulin dan antigenik lainnya (glukagon,polipeptida pankreas ) dalam jumlah kecil
C Cara Pemberian Insulin :
· Intravena
· Intra muskuler
· Subcutan
Cara Penyuntikan Insulin :
1. Gunakan semprit insulin yang dikalibrasi sama dengan unit insulin
2. Pilihlah insulin sesuai dengan tipe, kekuatan, jenis, dan merek dagang yang disebutkan dalam resep.
3. Putarlah atau kocoklah dengan perlahan botol. Untuk setiap jenis insulin yang bukan reguler atau globin insulin.
4. Jangan memberikan insulin yang dingin, biarkan sampai mencapai suhu kamar
5. Periksalah kekeruhan pial intermediet dan long acting insulin jangan digunakan bila tidak keruh
6. Periksalah dan buanglah gelembung udara setelah insulin disedot kedalam semprit.
7. Jika mencampur insulin, dengan melakukan urutan dengan cara menyedot dua jenis insulin dalam satu semprit yang sama
8. Lakukan penyuntikan pada tempat yang belum digunakan pada bulan sebelumnya
9. Tusukan jarum kedalam jaringan lemak lebih mendekati otot dari pada kulit, jika hanya terdapat sedikit jaringan subkutan, cubitlah kulit tersebut kemudian tusukan jarum dengan sudut 4 5 Derajat dengan kedalaman 3/8 atau ½ panjang jarum, tusukan dengan sudut 90 derajat jika jaringan lemaknya tebal.
D Perhitungan Pemberian Insulin.
Contoh :
Bila dalam vial insulin terdapat 40 unit,dengan dosis 12 ml,dan diberikan dengan 100 ml maka dosis yang harus diberikan kepada pasien sebanyak 30 ml
Cara perhitungan : 12 / 40 X 100 = 30 ml
E Lokasi atau areal penyuntikan.
1. Daerah muskulus deltoid 1/3 dari Akromion dan Olekranon
2. Daerah umbilikal
3. Muskulus Gluteal
4. Femur

WOC KATARAK


ASKEP TONSILITIS AKUT


TONSILITIS AKUT
(TONSILEKTOMI)

A.  Pengertian
Tonsilitis adalah terdapatnya peradangan umum dan pembengkakan dari jaringan tonsil  dengan pengumpulan lekosit, el-sel epitel mati dan bakteri patogen dalam kripta (Adam Boeis, 1994: 330).
Tonsilektomi adalah suatu tindakan invasif yang dilakukan untuk mengambil tonsil dengan atau tanpa adenoid (Adam Boeis, 1994: 337).

B.  Etiologi
1.    Streptokokus hemolitikus grup A.
2.    Pneumokokus.
3.    Stafilokokus.
4.    Haemofilus influezae.

C.  Pathofisiologi
1.    Terjadinya peradangan pada daerah tonsila akibat virus.
2.    Mengakibatkan terjadinya pembentukan eksudat.
3.    Terjadi selulitis tonsila dan daerah sekitarnya.
4.    Pembentukan abses peritonsilar.
5.    Nekrosis jaringan.

D.  Gejala-gejala
1.    Sakit tenggorokan dan disfagia.
2.    Penderita tidak mau makan atau minum.
3.    Malaise.
4.    Demam.
5.    Nafas bau.
6.    Otitis media merupakan salah satu faktor pencetusnya.
E.   Penatalaksanaan
1.    Tirah baring.
2.    Pemberian cairan adekuat dan diet ringan.
3.    Pemberian obat-obat (analgesik dan antibiotik).
4.    Apabila tidak ada kemajuan maka alternatif tindakan yang dapat di lakukan adalah pembedahan.
F.   Indikasi tindakan pembedahan
1.    Indikasi absolut
a.    Timbulnya kor pulmonale akibat adanya obstruksi jalan nafas yang kronis.
b.    Hipertrofi tonsil atau adenoid dengan sindroma apnea pada waktu tidur.
c.    Hipertrofi yang berlebihan yang mengakibatkan disfagia dan penurunan berat badan sebagai penyertanya.
d.   Biopsi eksisi yang di curigai sebagai keganasan (limfoma).
e.    Abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas pada jaringan sekitarnya.
2.    Indikasi relatif
Seluruh indikasi lain untuk tindakan tonsilektomi di anggap sebagai indikasi relatif.
3.    Indikasi lain yang paling dapat di terima adalah
a.    Serangan tonsilitis yang berulang.
b.    Hiperplasia tonsil dengan gangguan fungsional (disfagia).
c.    Hiperplasia dan obstruksi yang menetap selama 6 bulan.
d.   Tidak memberikan respons terhadap penatalaksanaan dan terapi.



G.  Kontraindikasi
1.    Demam yang tidak di ketahui penyebabnya.
2.    Asma.
3.    Infeksi sistemik atau kronis.
4.    Sinusitis.

H.  Persiapan operasi yang mungkin di lakukan
1.    Pemeriksaan laboratorium (Hb, leko, waktu perdarahan).
2.    Berikan penjelasan kepada klien tindakan dan perawatan setelah operasi.
3.    Puasa 6-8 jam sebelum operasi.
4.    Berikan antibiotik sebagai propilaksis.
5.    Berikan premedikasi ½ jam sebelum operasi.
















I.     Pengkajian
1.    Riwayat kesehatan yang bergubungan dengan faktor pendukung terjadinya tonsilitis serta bio- psiko- sosio- spiritual.
2.    Peredaradan darah
Palpitasi, sakit kepala pada saat melakukan perubahan posisi, penurunan tekanan darah, bradikardi, tubuh teraba dingin, ekstrimitas tampak pucat.
3.    Eliminasi
Perubahan pola eliminasi (inkontinensia uri/ alvi), distensi abdomen, menghilangnya bising usus.
4.    Aktivitas/ istirahat
Terdapat penurunan aktivitas karena kelemahan tubuh, kehilangan sensasi atau parese/ plegia, mudah lelah, sulit dalam beristirahat karena kejang otot atau spasme dan nyeri. Menurunnya tingkat kesadaran, menurunnya kekuatan otot, kelemahan tubuh secara umum.
5.    Nutrisi dan cairan
Anoreksia, mual muntah akibat peningkatan TIK (tekanan intra kranial), gangguan menelan, dan kehilangan sensasi pada lidah.
6.    Persarafan
Pusing/ syncope, nyeri kepala, menurunnya luas lapang pandang/ pandangan kabur, menurunnya sensasi raba terutama pada daerah muka dan ekstrimitas. Status mental koma, kelmahan pada ekstrimitas, paralise otot wajah, afasia, pupil dilatasi, penurunan pendengaran. 
7.    Kenyamanan
Ekspresi wajah yang tegang, nyeri kepala, gelisah.
8.    Pernafasan
Nafas yang memendek, ketidakmampuan dalam bernafas, apnea, timbulnya periode apnea dalam pola nafas.
9.    Keamanan
Fluktuasi dari suhu dalam ruangan.
10.    Psikolgis
Denial, tidak percaya, kesedihan yang mendalam, takut, cemas.

J.     Masalah  dan rencana tindakan keperawatan
1.    Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kerusakan jaringan atau trauma pada pusat pernafasan
Tujuan: Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan pernafasan secara adekuat dengan memperlihatkan hasil blood gas yang stabil dan baik serta hilangnya tanda-tanda distress pernafasan.
Rencana tindakan:
a.    Bebaskan jalan nafas secara paten (pertahankan posisi kepala dalam keadaan sejajar dengan tulang belakang/ sesuai indikasi).
b.    Lakukan suction jika di perlukan.
c.    Kaji fungsi sistem pernafasan.
d.   Kaji kemampuan pasien dalam melakukan batuk/ usaha mengeluarkan sekret.
e.    Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
f.     Observasi tanda-tanda adanya ditress pernafasan (kulit menjadi pucat/ cyanosis).
g.    Kolaborasi dengan terapist dalam pemberian fisoterapi.


2.    Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan neuromuskuler pada ekstrimitas.
Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas fisik.
Rencana tindakan:
a.    Kaji kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas.
b.    Ajarkan pada pasien tentang rentang gerak yang masih dapat di lakukan.
c.    Lakukan latihan secara aktif dan pasif pada akstrimitas untuk mencegah kekakuan otot dan atrofi.
d.   Anjurkan pasien untuk mengambil posisi yang lurus.
e.    Bantu pasien secara bertahap dalam melakukan ROM sesuai kemampuan.
f.     Kolaborasi dalam pemberian antispamodic atau relaxant jika di perlukan.
g.    Observasi kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas 

3.    Penurunan perfusi jaringan otak berhubungan dengan edema cerebri, perdarahan pada otak.
Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kesadaran, kognitif dan fungsi sensori.
Rencana tindakan:
a.    Kaji status  neurologis dan catat perubahannya.
b.    Berikan pasien posisi terlentang.
c.    Kolaborasi dalam pemberian O2.
d.   Observasi tingkat kesadaran, tanda vital.

4.    Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya trauma secara fisik
Tujuan: Pasien mengungkapkan nyeri sudah berkurang dan menunjukkan suatu keadaan yang relaks dan tenang.
Rencana tindakan:
a.    Kaji tingkat atau derajat nyeri yang di rasakan oleh pasien dengan menggunakan skala.
b.    Bantu pasien dalam mencarai faktor presipitasi dari nyeri yang di rasakan.
c.    Ciptakan lingkungan yang tenang.
d.   Ajarkan dan demontrasikan ke pasien tentang beberapa cara dalam melakukan tehnik relaksasi.
e.    Kolaborasi dalam pemberian sesuai indikasi.

5.    Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek dari kerusakan pada area bicara pada himisfer otak.
Tujuan: Pasien mampu melakukan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan menunjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan komunikasi.
Rencana tindakan:
a.    Lakukan komunkasi dengan pasien (sering tetapi pendek serta  mudah di pahami).
b.    Ciptakan suatu suasana penerimaan terhadap perubahan yang dialami pasien.
c.    Ajarkan pada pasien untuk memperbaiki  tehnik berkomunikasi.
d.   Pergunakan tehnik komunikasi non verbal.
e.    Kolaborasi dalam pelaksanaan terapi wicara.
f.     Observasi kemampuan pasien dalam melakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal.

6.    Perubahan konsep diri berhubungan dengan perubahan persepsi.
Tujuan: Pasien menunjukan peningkatan kemampuan dalam menerima keadaan nya.
Rencana tindakan:
a.    Kaji pasien terhadap derajat perubahan konsep diri.
b.    Dampingi dan dengarkan keluhan pasien.
c.    Beri dukungan terhadap tindakan yang bersifat positif.
d.   Kaji kemampuan pasien dalam beristirahat (tidur).
e.    Observasi kemampuan pasien dalam menerima keadaanya.
7.    Perubahan pola eliminasi defekasi dan uri berhubungan dengan an inervasi pada bladder dan rectum.
Tujuan: Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan eliminasi (defekasi/ uri) secara normal sesuai dengan kebiasaan pasien.
Rencana tindakan:
a.    Kaji pola eliminasi pasien sebelum dan saat di lakukan pengkajian.
b.    Auskultasi bising usus dan distensi abdomen.
c.    Pertahankan porsi minum 2-3 liter perhari (sesuai indikasi).
d.   Kaji/ palpasi distensi dari bladder.
e.    Lakukan bladder training sesuai indikasi.
f.     Bantu/ lakukan pengeluaran feces secara manual.
g.    Kolaborasi dalam(pemberian gliserin, pemasangan dower katheter dan  pemberian obat sesuai indikasi).

8.    Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sirkulasi perifer yang tidak adekuat, adanya edema, imobilisasi.
Tujuan: Tidak terjadi kerusakan integritas kulit (dikubitus).
Rencana tindakan:
a.    Kaji keadaan kulit dan lokasi yang biasanya terjadi luka atau lecet.
b.    Anjurkan pada keluarga agar menjaga keadan kulit tetap kering dan bersih.
c.    Ganti posisi tiap 2 jam sekali.
d.   Rapikan alas tidur agar tidak terlipat.







9.    Resiko terjadinya ketidakpatuhan terhadap penatalaksanaan yang berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan: Pasien menunjukan kemauan untuk melakukan kegiatan penatalak- sanaan.
a.    Identifikasi faktor yang dapat menimbulkan ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan.
b.    Diskusikan dengan pasien cara-cara untuk mengatasi faktor penghambat tersebut.
c.    Jelaskan pada pasien akibat dari ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan.
d.   Libatkan keluarga dalam penyuluhan.
e.    Anjurkan pada pasien untuk melakukan kontrol secara teratur.
















DAFTAR PUSTAKA

Boeis,Adam, 1994, Buku Ajar Penyakit THT, Jakarta: EGC.


Junadi, Purnawan,  1982, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


Price, Sylvia Anderson, 1985, Pathofisiologi Konsep klinik proses-proses penyakit, Jakarta: EGC.