selamat datang

Kampus ku

Pesan Kami

DATA

Postingan
Komentar

Total Tayangan Halaman

Like Facebook


Sabtu, 01 Juni 2013

ASKEP TRAUMA TUMPUL ABDOMEN (Lengkap)



A.     PENGERTIA

Trauma tumpul abdomen adalah pukulan / benturan langsung pada rongga abdomen yang mengakibatkan cidera tekanan/tindasan pada isi rongga abdomen, terutama organ padat (hati, pancreas, ginjal, limpa) atau berongga (lambung, usus halus, usus besar, pembuluh – pembuluh darah abdominal) dan mengakibatkan ruptur abdomen. (Temuh Ilmiah Perawat Bedah Indonesia, 13 Juli 2000)

B.       ETIOLOGI / FAKTOR PENYEBAB
Kecelakaan lalu lintas, penganiayaan, kecelakaan olahraga dan terjatuh dari ketinggian.
C.       ANATOMI DAN FISIOLOGI
Abdomen ialah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuk lonjong dan meluas dari atas diafragma sampai pelvis dibawah.  Rongga abdomen dilukiskan menjadi dua bagian – abdomen yang sebenarnya, yaitu rongga sebelah atas dan yang lebih besar, dan pelvis yaitu rongga sebelah bawah dab kecil.
Batasan – batasan abdomen. Di atas,  diafragma, Di bawah, pintu masuk panggul dari panggul besar. Di depan dan kedua sisi, otot – otot abdominal, tulang –tulang illiaka dan iga – iga sebelah bawah. Di belakang, tulang punggung, dan otot psoas dan quadratrus lumborum.
Isi Abdomen. Sebagaian besar dari saluran pencernaan, yaitu lambung, usus halus, dan usus besar. Hati menempati bagian atas, terletak di bawah diafragma, dan menutupi lambung dan bagian pertama usus halus. Kandung empedu terletak dibawah hati. Pankreas terletak dibelakang lambung, dan limpa terletak dibagian ujung pancreas. Ginjal dan kelenjar suprarenal berada diatas dinding posterior abdomen. Ureter berjalan melalui abdomen dari ginjal. Aorta abdominalis, vena kava inferior, reseptakulum khili dan sebagaian dari saluran torasika terletak didalam abdomen.
Pembuluh limfe dan kelenjar limfe, urat saraf, peritoneum dan lemak juga dijumpai dalam rongga ini.
D.     PATHOFISIOLOGI
Bila suatu kekuatan eksternal dibenturkan pada tubuh manusia (akibat kecelakaan lalulintas, penganiayaan, kecelakaan olah raga dan terjatuh dari ketinggian), maka beratnya trauma merupakan hasil dari interaksi antara faktor – faktor fisik  dari kekuatan tersebut dengan jaringan tubuh. Berat trauma yang terjadi berhubungan  dengan kemampuan obyek statis (yang ditubruk) untuk menahan tubuh. Pada tempat benturan karena terjadinya perbedaan pergerakan  dari jaringan tubuh yang akan menimbulkan disrupsi jaringan. Hal ini juga karakteristik dari permukaan  yang menghentikan tubuh juga penting. Trauma juga tergantung pada elastitisitas dan viskositas dari jaringan tubuh. Elastisitas adalah kemampuan jaringan untuk kembali pada keadaan yang sebelumnya. Viskositas adalah kemampuan jaringan untuk menjaga bentuk aslinya walaupun ada benturan. Toleransi tubuh menahan benturan tergantung pada kedua keadaan tersebut.. Beratnya trauma yang terjadi tergantung kepada seberapa jauh gaya yang ada akan dapat melewati ketahanan jaringan. Komponen lain yang harus dipertimbangkan  dalam beratnya trauma adalah posisi tubuh relatif terhadap permukaan benturan. Hal tersebut dapat terjadi cidera organ intra abdominal yang disebabkan beberapa mekanisme :
§  Meningkatnya tekanan intra abdominal yang mendadak dan hebat oleh gaya tekan dari luar seperti benturan setir atau sabuk pengaman yang letaknya tidak benar dapat mengakibatkan terjadinya ruptur dari organ padat maupun organ berongga.
§  Terjepitnya organ intra abdominal antara dinding abdomen anterior dan vertebrae atau struktur tulang dinding thoraks.
§  Terjadi gaya akselerasi – deselerasi secara mendadak dapat menyebabkan gaya robek pada organ dan pedikel vaskuler.
E.       DAMPAK MASALAH TERHADAP KLIEN
Setiap musibah yang dihadapi seseorang akan selalu menimbulkan dampak masalah baik bio - psiko- social-spiritual yang dapat mempengaruhi kesehatan dan perubahan pola kehidupan. Dampak dari pre operasi :
a.       Dampak pada fisik :
q  Pola Pernapasan :
Keadaan ventilasi pernapasan terganggu jika terdapat gangguan / instabilitasi cardiovaskuler, respirasi dan kelainan – kelainan neurologis akibat multiple trauma.
Penyebab yang lain adalah  perdarahan didalam rongga abdominal yang menyebabkan distended sehingga menekan diafragma yang akan mempengaruhi ekspansi rongga thoraks.
q  Pada sirkulasi
Perdarahan dalam rongga abdomen karena cidera dari oragan – organ abdominal yang padat maupun berongga atau terputusnya pembuluh darah, sehingga tubuh kehilangan darah dalam waktu singkat yang mengakibatkan shock hipovolemik dimana sisa darah tidak cukup mengisi rongga pembuluh darah.
q  Perubahan perfusi jaringan
Penurunan perfusi jaringan disebabkan karena suplai darah yang dipompakan jantung ke seluruh tubuh berkurang / tidak mencukupi kesesuaian kebutuhan akibat dari shock hipovolemic.
q  Penurunan Volume cairan tubuh.
Perdarahan akut akan mempengaruhi keseimbangan cairan di dalam tubuh, dimana cairan intra celluler (ICF), Extracelluler (ECF) diantaranya adalah cairan yang berada di dalam pembuluh darah (IV) dan cairan yang berada di dalam jaringan di antara sel - sel (ISF) akan mengalami defisit atau hipovolemia.
q  Kerusakan Integritas kulit.
Trauma benda tumpul dan tajam akan menimbulkan kerusakan dan terputusnya jaringan  kulit atau yang dibagian dalamnya  diantaranya pembuluh darah, persyarafan dan otot didaerah trauma.
b.      Dampak Psikologis :
Perasaan cemas dan takut akan menyelimuti diri pasien, hal ini disebabkan karena musibah yang dialaminya dan kurangnya informasi tentang tindakan pengobatan dengan jalan pembedahan / operasi.
c.       Dampak Sosial :
Mengingat dana yang dibutuhkan untuk tindakan pembedahan tidak sedikit dan harga obat – obatan yang cukup tinggi, hal ini akan mempengaruhi kondisi ekonomi dan membutuhkan waktu yang amat segera (sempit)
F.       ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
Dalam pengkajian pada trauma  abdomen harus berdasarkan prinsip – prinsip Penanggulangan Penderita Gawat Darurat yang mempunyai skala prioritas A (Airway), B (Breathing), C (Circulation). Hal ini dikarenakan trauma abdomen harus dianggap sebagai dari multi trauma dan dalam pengkajiannya tidak terpaku pada abdomennya saja.
1.1  Anamnesa
1.1.1        Biodata
1.1.2        Keluhan Utama
-        Keluhan yang dirasakan sakit.
-        Hal spesifik dengan penyebab dari traumanya.
1.1.3        Riwayat penyakit sekarang (Trauma)
-        Penyebab dari traumanya  dikarenakan benda tumpul atau peluru.
-        Kalau penyebabnya jatuh, ketinggiannya berapa dan bagaimana posisinya saat jatuh.
-        Kapan kejadianya dan jam berapa kejadiannya.
-        Berapa berat keluhan yang dirasakan bila nyeri, bagaimana sifatnya pada quadran mana yang dirasakan paling nyeri atau sakit sekali.
1.1.4        Riwayat Penyakit yang lalu
-        Kemungkinan pasien sebelumnya  pernah menderita gangguan jiwa.
-        Apakah pasien menderita penyakit asthma atau diabetesmellitus dan gangguan faal hemostasis.
1.1.5   Riwayat psikososial spiritual
-        Persepsi pasien terhadap musibah yang dialami.
-        Apakah musibah tersebut mengganggu emosi dan mental.
-        Adakah kemungkinan percobaan bunuh diri (tentamen-suicide).
1.2  Pemeriksaan Fisik
1.2.1        Sistim Pernapasan
-        Pada inspeksi bagian frekwensinya, iramanya dan adakah jejas pada dada serta jalan napasnya.
-        Pada palpasi simetris tidaknya dada saat paru ekspansi dan pernapasan tertinggal.
-        Pada perkusi adalah suara hipersonor dan pekak.
-        Pada auskultasi adakah suara abnormal, wheezing dan ronchi.
1.2.2  Sistim cardivaskuler (B2 = blead)
-        Pada inspeksi adakah perdarahan aktif atau pasif yang keluar dari daerah abdominal dan adakah anemis.
-        Pada palpasi bagaimana mengenai kulit, suhu daerah akral dan bagaimana suara detak jantung menjauh atau menurun dan adakah denyut jantung paradoks.
1.2.3   Sistim Neurologis (B3 = Brain)
-        Pada inspeksi adakah gelisah atau tidak gelisah dan adakah jejas di kepala.
-        Pada palpasi adakah kelumpuhan atau lateralisasi pada anggota gerak
-        Bagaimana tingkat kesadaran yang dialami dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS)
1.2.4   Sistim Gatrointestinal (B4 = bowel)
-        Pada inspeksi :
¨       Adakah jejas dan luka atau adanya organ yang luar.
¨       Adakah distensi abdomen kemungkinan adanya perdarahan dalam cavum abdomen.
¨       Adakah pernapasan perut yang tertinggal atau tidak.
¨       Apakah kalau batuk terdapat nyeri dan pada quadran berapa, kemungkinan adanya abdomen iritasi.
-        Pada palpasi :
·         Adakah spasme / defance mascular dan abdomen.
·         Adakah nyeri tekan dan pada quadran berapa.
·         Kalau ada  vulnus sebatas mana kedalamannya.
-        Pada perkusi :
§  Adakah nyeri ketok dan pada quadran mana.
§  Kemungkinan – kemungkinan adanya cairan / udara bebas dalam cavum abdomen.
-        Pada Auskultasi :
§  Kemungkinan adanya peningkatan atau penurunan dari bising usus atau menghilang.
-        Pada rectal toucher :
§  Kemungkinan adanya darah / lendir pada sarung tangan.
§  Adanya ketegangan tonus otot / lesi pada otot rectum.
1.2.5        Sistim Urologi ( B5 = bladder)
-        Pada inspeksi adakah jejas pada daerah rongga pelvis dan adakah distensi pada daerah vesica urinaria serta bagaimana produksi urine dan warnanya.
-        Pada palpasi adakah nyeri tekan daerah vesica urinaria dan adanya distensi.
-        Pada perkusi adakah nyeri ketok pada daerah vesica urinaria.
1.2.6         Sistim Tulang dan Otot ( B6 = Bone )
¨      Pada inspeksi adakah jejas dan kelaian bentuk extremitas terutama daerah pelvis.
¨      Pada palpasi adakah ketidakstabilan pada tulang pinggul atau pelvis.
1.3      Pemeriksaan Penunjang :
1.3.1   Radiologi :
-  Foto BOF (Buick Oversic Foto)
-  Bila perlu thoraks foto.
-  USG (Ultrasonografi)
1.3.2   Laboratorium :
-  Darah lengkap dan sample darah (untuk transfusi)
Disini terpenting Hb serial ½ jam sekali sebanyak 3 kali.
-  Urine lengkap (terutama ery dalam urine)
1.3.3   Elektro Kardiogram
-  Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien usia lebih 40 tahun.
2.        Diagnosa Keperawatan
Adapun masalah perawatan yang actual maupun potensial pada penderita pre operatis trauma tumpul abdomen adalah sebagai berikut :
2.1        Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sehubungan dengan terputusnya pembuluh darah arteri / vena suatu jaringan (organ abdomen) yang ditandai dengan adanya perdarahan, jejas atau luka dan distensi abdomen.
2.2        Perubahan perfusi jaringan sehubngan dengan hypovolemia, penurunan suplai darah ke seluruh tubuh yang ditandai dengan suhu kulit bagian akral dingin, capillary refill lebih dari 3 detik dan produksi urine kurang dari 30 ml/jam.
2.3        Nyeri sehubungan dengan rusaknya jaringan lunak / organ abdomen yang ditandai dengan pasien menyatakan sakit bila perutnya ditekan, nampak menyeringai kesakitan.
2.4        Cemas sehubungan dengan pengobatan pembedahan yang akan dilakukan yang ditandai dengan pasien menyatakan kekhawatirannya terhadap pembedahan, ekspresi wajah tegang dan gelisah.
2.5        Kurangnya pengetahuan tentang pembedahan yang akan dilakukan sehubungan dengan kurangnya informasi / informasi inadquat yang itandai dengan pasien bertanya tentang dampak dari musibah yang dialami dan akibat dari pembedahan.
3.       Perencanaan
3.1   Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sehubungan dengan terputusnya pembuluh darah arteri / vena suatu jaringan (organ abdomen) yang ditandai dengan adanya perdarahan, jejas atau luka dan distensi abdomen.
Tujuan :
ü  Keseimbangan cairan tubuh teratasi.
ü  Sirkulasi dinamik (perdarahan) dapat diatasi.
Kriteria Hasil :
ü  Cairan yang keluar seimbang , tidak didapat gejala – gejala dehidrasi.
ü  Perdarahan yang keluar dapat berhenti, tidak didapat anemis, Hb diatas 80 gr %
ü  Tanda vital dalam batas normal.
ü  Perkusi : Tidak didapatkan distensi abdomen.
Rencana Tindakan :
1)      Kaji tentang cairan perdarahan yang keluar adakah gambaran klinik hipovolemic
2)      Jelaskan tentang sebab – akibat dari kekurangan cairan / perdarahan serta tindakan yang akan kita lakukan.
3)      Observasi gejala – gejala vital, suhu, nadi,  tensi, respirasi dan kesadaran pasien setiap 15 menit atau 30 menit.
4)      Batasi pergerakan yang tidak berguna dan menambah perdarahan yang keluar.
5)      Kolaborasi dengan tim medis dalam pelaksanaan :
§  Pemberian cairan infus (RL) sesuai dengan kondisi.
§  Menghentikan perdarahan bila didapat trauma tajam dengan jalan didrug (ditekan) atau diklem / ligasi.
§  Pemasangan magslang dan katheter + uro – bag.
§  Pemberian transfusi bila Hb kurang dari 8 gr %.
§  Pemasangan lingkar abdomen.
§  Pemeriksaan EKG.
6)      Kolaborasi dengan tim radiology dalam pemeriksaan (BOF) dan foto thoraks.
7)      Kolaborasi dengan tim analis dalam pemeriksaan (DL : darah lengkap) (Hb serial) dan urine lengkap.
8)      Monitoring setiap tindakan perawatan / medis yang dilakukan serta catat dilembar observasi.
9)      Monitoring cairan yang masuk dan keluar serta perdarahan yang keluar dan catat dilembar observasi.
10)  Motivasi kepada klien dan keluarga tentang tindakan perawatan / medis selanjutnya.
3.2  Perubahan perfusi jaringan sehubungan dengan hypovolemia, penurunan suplai darah ke seluruh tubuh yang ditandai dengan suhu kulit bagian akral dingin, capillary refill lebih dari  3  detik dan produksi urine kurang dari 30 ml/jam.
Tujuan :
§  Tidak terjadi / mempertahankan perfusi jaringan dalam kondisi normal.
Kriteria hasil :
§  Status haemodinamik dalam kondisi normal dan stabil.
§  Suhu dan warna kulit bagian akral hangat dan kemerahan.
§  Capillary reffil kurang dari 3 detik.
§  Produksi urine lebih dari 30 ml/jam.
Rencana Tindakan
1)      Kaji dan monitoring kondisi pasien termasuk Airway, Breathing dan Circulation serta kontrol adanya perdarahan.
2)      Lakukan pemeriksaan Glasgow Coma scale (GCS) dan pupil.
3)      Observasi tanda – tanda vital setiap 15 menit.
4)      Lakukan pemeriksaan Capillary reffil, warna kulit dan kehangatan bagian akral.
5)      Kolaborasi dalam pemberian cairan infus.
6)      Monitoring input dan out put terutama produksi urine.
3.3  Nyeri sehubungan dengan rusaknya jaringan lunak / organ abdomen yang ditandai dengan pasien menyatakan sakit bila perutnya ditekan, nampak menyeringai kesakitan.
Tujuan :
-        Rasa nyeri yang dialami klien berkurang / hilang.
Kriteria hasil :
-        Klien mengatakan nyerinya berkurang atau hilang.
-        Klien nampak tidak menyeringai kesakitan.
-        Tanda – tanda vital dalam batas normal.
Rencana Tindakan :
1)      Kaji tentang kualitas, intensitas dan penyebaran nyeri.
2)      Beri penjelasan tentang sebab dan akibat nyeri, serta jelaskan tentang tindakan yang akan dilakukan.
3)      Berikan posisi pasien yang nyaman dan hindari pergerakan yang dapat menimbulkan rangsangan nyeri.
4)      Berikan tekhnik relaksasi untuk mengurangi rasa nyeri dengan jalan tarik napas panjang dan dikeluarkan secara perlahan – lahan.
5)      Observasi tanda – tanda vital, suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah.
6)      Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat analgesik bilamana dibutuhkan, (lihat penyebab utama)
3.4  Cemas sehubungan dengan pengobatan pembedahan yang akan dilakukan yang ditandai dengan pasien menyatakan kekhawatirannya terhadap pembedahan, ekspresi wajah tegang dan gelisah.
Tujuan :
-    Kecemasan dapat diatasi.
Kriteria hasil :
-        Klien mengatakan tidak cemas.
-        Ekspresi wajah klien tampak tenang dan tidak gelisah.
-        Klien dapat menggunakan koping mekanisme yang efektif secara fisik – psiko untuk mengurangi kecemasan.
Rencana Tindakan :
1)      Indetifikasi tingkat kecemasan dan persepsi klien seperti takut dan cemas serta rasa kekhawatirannya.
2)      Kaji tingkat pengetahuan klien terhadap musibah yang dihadapi dan pengobatan pembedahan yang akan dilakukan.
3)      Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya.
4)      Berikan perhatian dan menjawab semua pertanyaan klien untuk membantu mengungkapkan perasaannya.
5)      Observasi tanda – tanda kecemasan baik verbal dan non verbal.
6)      Berikan penjelasan setiap tindakan persiapan pembedahan sesuai dengan prosedur.
7)      Berikan dorongan moral dan sentuhan therapeutic.
8)      Berikan penjelasan dengan menggunakan bahasa yang sederhana tentang pengobatan pembedahan dan tujuan tindakan tersebut kepada klien beserta keluarga.
3.5  Kurangnya pengetahuan tentang pembedahan yang akan dilakukan sehubungan dengan kurangnya informasi tentang sebab dan akibat dari trauma serta dampak dari pembedahan yang ditandai dengan pasien / keluarga sering bertanya dari petugas yang satu ke petugas yang lain, klien / keluarga nampak belum kooperatif.
Tujuan :
-        Klien / keluarga mengerti dan memahami tentang tindakan pembedahan yang akan dilakukan.
Kriteria hasil :
-        Klien / keluarga memahami prosedur dan tindakan yang akan dilakukan.
-        Klien kooperatif setiap tindakan yang terkait dengan persiapan pembedahan.
Rencana Tindakan :
1)      Kaji tingkat pengetahuan klien / keluarga.
2)      Jelaskan secara sederhana tentang pengobatan yang dilakukan dengan jalan pembedahan.
3)      Diskusikan tentang hal – hal yang berhubungan dengan prosedur pembedahan dan proses penyembuhan.
4)      Berikan perhatian dan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya.
5)      Anjurkan klien untuk berpartisipasi selama dalam perawatan.
6)      Lakukan check list untuk persiapan pre operasi antara lain informed consent, alat/obat dan persiapan darah untuk transfusi.
4.       Pelaksanaan Perawatan
Dalam pelaksanaan sesuai dengan rencana perawatan dengan modifikasi sesuai dengan kondisi pasien dan kondisi ruangan dan asuhan perawatan yang telah dilakukan di tulis pada lembar catata perawatan sesuai dengan tanggal, jam, serta tanda tangan, nama yang melakukan.
5.        Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan setiap saat setelah rencana perawatan dilakukan serta ssat pasien pindah dari IRD, sedangkan cara melakukan evaluasi sesuai dengan criteria keberhasilan pada tujuan rencana perawatan. Dengan demikian evaluasi dapat dilakukan sesuai dengan criteria / sasaran secara rinci di tulis pada lembar catatan perkembangan yang berisikan S-O-A-P-I-E-R  (data Subyek, Obyek, Assesment, Implemetasi, Evaluasi dan Revisi.). Dari catatan perkembangan ini seorang perawat dapat mengetahui beberapa hal antara lain :
1. Apakah datanya sudah relevan dengan kondisi saat ini.
2.     Apakah ada data tambahan selama melaksanakan intervensi (perencanaan perawatan).
3. Adakah tujuan perencanaan yang belum tercapai.
4. Tujuan perencanaan perawatan manakah yang belum tercapai.
5. Apakah perlu adanya perubahan dalam perencanaan perawatan.

DAFTAR PUSTAKA
1.                                      American Callege Of Surgeons. 1997. Advced Trauma Life Suport (ATLS) for Doctors, Edition 6, Amerika Serikat.
2.                                       Departemen Kesehatan RI. 1990. Pusat Diklat Tenaga Kesehatan, Penerapan Proses Keperawatan Pada Klien Gangguan Sistem Pernafasan. Depkes RI.
3.                                      Horison’ s. Gangguan Saluran Pencernaan, Edisi 9 Terjemahan Adji Dharma, EGC Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.
4.                                      Dolan T. Joant. 1991. Critical Care Nursing Clinical Management Through The Nursing Proces, New York. Amerika Serikat, FA Davis Company. Philadephia.
5.                                      Doenges E. Marilyn. Et  All. 1987. Nursing Care Plans,  Edition 2, Company Philadephia.
6.                                      Wolf. Weitzel. Fuest. 1984. Dasar – Dasar Ilmu Keperawatan. Jakarta. PT Gunung Agung.

Kamis, 09 Mei 2013

Akses vaskuler pada ginjal pengganti


1.       Akses Vascular Pada Terapi Ginjal Pengganti
A.     Pengertian Vascular Akses
Vasvular access adalah istilah yang berasal dari bahasa inggris yang berarti jalan untuk memudahkan mengeluarkan darah dari pembuluhnya untuk keperluan tertentu, dalam kasus gagal ginjal terminal adalah untuk proses hemodilisis.
1.        
A.     Alasan Pemasangan Vaskular Akses
Pemasangan Vaskular diharapkan dapat memudahkan dokter dan perawat untuk melakukan akses atau penusukan sehingga lebih mudah dan mengurangi resiko dari penusukan yang dilakukan pada tempat lain seperti area femoral.
,

1.        
A.     Bentuk Vaskular Akses Untuk Terapi Ginjal Pengganti
                    i.            Sejenis alat berupa saluran atau kanula ( kateter ) yang dimasukan kedalam lumen pembuluh darah seperti sub clavia dan jugular.
                 ii.            Berupa pembuluh darah vena atau pembuluh darah buatan ( politetrafluroetilen nama dagang : gerotek ) yang disambungkan ( anstomosis ) dengan arteri ( AV-shunt/Brecia cimino )
( Ronco, 2004 : 53 )
1.       Vaskular Akses Dengan Metode Anastomosis Arteri Dengan Vena ( AV – Shunt )
1.       Pengertian AV – Shunt
AV-shunt adalah penyambungan pembuluh darah vena dan arteri dengan tujuan untuk memperbesar aliran darah vena supaya dapat digunakan untuk keperluan hemodialisis
1.       Teknik Penyambungan atau Anatomosis Pada AV – Shunt
1.        
A.      
                    i.            Side ( sisi ) to End ( ujung ) adalah teknik penyambungan dengan menyambungkan pembuluh darah vena yang dipotong dengan sisi pembuluh darah arteri.
                 ii.            Side ( sisi ) to side (Sisi ) adalah teknik penyambungan dengan menyambungkan sisi pembuluh darah vena dengan sisi pembuluh darah arteri.
               iii.            End ( ujung ) to End ( ujung ) adalah teknik penyambungan dengan menyambungkan pembuluh darah vena yang dipotong dengan pembuluh darah arteri yang juga di potong
                iv.            End ( ujung ) to side ( sisi ) adalah teknik penyambungan dengan menyambungkan pembuluh darah arteri yang dipotong dengan sisi pembuluh darah vena.
Teknik penyambungan side to end merupakan teknik yang tersering dilakukan karena aliran darah vena yang menuju ke jantung adalah yang terbesar volumenya ( lihat table 1 ) dan mencegah terjadinya hipertensi vena selain itu teknik ini juga dapat mencegah pembengkakan.
Hemodinamika Aliran darah Fistula Antara a.radialais dan
v. chepalica
Teknik Penyambungan
Fistula
( ml/mnt )
Vena Proksimal
( ml/mnt )
Tekanan Darah Arteri di Tangan (mmHg)
Tekanan Darah Vena di Tangan (mmHg)
Normal

15
95
3
Side to Side
571
434
58
26
End to Side
474
369
92
23
Side to End
507
507
61
4
End to Side
435
435
91
6
Side to Side ( Vena Proksimal di ikat )
267
-
79
48
Side to Side ( Arteri proksimal di Ikat )
194
152
41
9
1.       Waktu terbaik untuk AV – Shunt
Waktu terbaik untuk AV – Shunt adalah pada masa awal setelah penderita dinyatakan menderita gagal ginjal tahap akhir. Keuntungannya adalah memudahkan ahli bedah untuk melakukan operasi karena kulitas pembuluh darah belum terkena terauma penusukan dan komplikasi lain dari penyakit yang menyertai gagal ginjal seperti penyakit yang menyebabkan terjadinya arterosklerosis atau hiperpalsia sel pembuluh darah.
1.       Komplikasi AV – Shunt
A.     Thrombotic occlusion
B.     .Non- Thrombotic occlusion:
                    i.            Bleeding – Early complication (< 24 hours – 7 days)
                 ii.            .Infection
               iii.            Pseudoaneurysm
                iv.            Seroma
                  v.            Venous hypertension
                vi.            Steal Neuropathy.
( Yuwono HS, 2008 1-10 )
1.        
A.      
                    i.             
a.      Peranan Perawat Dalam Penatalaksanaan AV – Shunt
1.        
A.      
                    i.             
a.      Kapan dan Apa alasannya Perawat Harus Menyarankan Pasien Operasi
AV – Shunt
1.       Sarankan pasien secepat mungkin untuk dilakukan AV-Shunt setelah dinyatakan menderita gagal ginjal tahap akhir dan harus HD tetapi biasanya pasien sudah disarankan oleh dokter penyakit dalam bahkan sebelum HD dimulai. Dengan harapan memudahkan ahli bedah untuk memilih pembuluh darah yang baik karena belum terkena trauma akses saat HD atau pengobatan intravenus yang lain, selain itu pemakaian area femoralis untuk akses HD sangat beresiko untuk jangka panjang.
2.      Dengan operasi AV-Shunt sedini mungkin diharapkan juga pembuluh darah arteri dan vena belum terkena komplikasi lebih lanjut dari penyakit seperti hipertensi dan diabetes melitus yang dapat menyebabkan ding-ding pembuluh darah menjadi tebal dan mengalami diseksi.
3.      Penebalan pembuluh darah biasanya terjadi karena arterosklerosis dan hiperplasia sel pada pembuluh darah akibat penyakit kronis. Diseksi terjadi karena adanya ploriferasi intima yang disebabkan oleh vasokontriksi pembuluh darah seperti pada hipertensi yang akhirnya terjadi tekanan tinggi pada tunika media sehingga bagian tunika intima dan adventisia menjadi terpisah. Pada pemotongan pembuluh darah yang mengalami diseksi terlihat seperti adanya dua ding-ding pembuluh darah.
1.        
A.      
                    i.             
a.      Persiapan Yang Harus Dilakukan Perawat Sebelum Operasi AV – Shunt
1.       Berikan informasi yang jelas pada pasien karena sering terjadi kesalah pahaman. Pasien sering menganggap Operasi AV-Shunt adalah pemasangan alat untuk HD padahal hanya menyambungkan pembuluh darah yang ada pada tubuh pasien.
2.      Batasan laboratorium untuk operasi AV-Shunt biasanya direkomendasikan dari dokter penyakit dalam dan ahli bedahnya. Selama ini Rekomendasi yang ada di RSKG ny. R.A Habibie untuk Periksakan laboratorium yaitu , Hb > 8 mg/dl, Trombosit dalam batas normal,Gula Darah Sewaktu dalam batas normal untuk pasien tanpa riwayat DM dan untuk pasien dengan DM harus dikonsultasikan lagi dengan ahli bedahnya ( Berdasarkan pengalaman GDS dibawah 200 mg/dl bisa di lakukan operasi AV-Shunt )
3.      Penting untuk perawat untuk menghindari akses vaskular ( outlet ) pada tangan yang akan dilakukan operasi.
4.      Lakukan program free heparin sebelum dilakukan operasi,menurut literatur sebaiknya heparin tidak diberikan 6-8 jam sebelum operasi dan diharapkan tidak diberikan kembali setelah 12 jam post operasi atau dikondisikan sampai luka operasi mengering.
5.      Latihan dibutuhkan pada pasien yang mempunyai pembuluh darah yang sangat kecil saat di insfeksi atau palpasi.
6.      Sebelum operasi perawat HD bisa melakukan palpasi pada arteri radialis dan ulnaris untuk merasakan kuat tidaknya aliran darah arterinya kemudian dilaporkan ke ahli bedah.bila salah satu arteri (a.radilis/a.ulnaris ) tidak teraba dan tidak ditemukan dengan alat penditeksi ( dopler ) maka kontra indikasi untuk dilakukan AV-Shunt. ( Ronco : 2004, Sumer DS, 1987, Suzane C,2002 )
1.        
A.      
                    i.             
a.      Intervensi Keperawatan Pada Berbagai Komplikasi Dan Masalah AV – Shunt
NO
MASALAH
PENYEBAB
INTERVENSI PERAWAT
1
Perdarahan
§  Biasanya terjadi karena trauma insisi jaringan
§  Jika perdaran menimbulkan pembengkakan yang hebat dimungkinkan karena kebocoran anatomosis tapi sangat jarang
§  Jika perdarahan hanya rembes atau sedikit dimungkinkan dari jaringan kutis atau subkutis.
§  Jika tidak disertai pembengkakan perawat HD bisa melakukan penekanan dengan deper atau kasa pada bagian yang mengalami perdarahan
§  Jika disertai dengan pembengkakan segera lapor ahli bedahnya.
§  Berikan penjelasan pada pasien supaya tidak terjadi kepanikan
2
Oedema atau Pembengkakan bagian tangan yang di operasi
§  Trombus
§  Pembuluhdarah vena yang tidak cukup kuat menerima aliran arteri yang besar
§  Infeksi
§  Kebocoran pada area anastomosis atau pembuluh darah lain yang terkena tarauma selama operasi
§  Penusukan yang gagal dan berulang, adanya trauma
§  Bila pembengkakan teraba thrill dan terdengar bruit maka itu disebabkan oleh paseudo aneurisma (aneurisma palsu). Aneurisma palsu disebabkan oleh darah yang keluar dari arteri karena penusukan arteri ( arteri tak sengaja tertusuk ) yang tamudah berhenti walaupun dengan tekanan.
§  Perawat dapat menyarankan posisi lengan yang oedem ditinggikan untuk memperbaiki aliran balik vena
§  Hidari penusukan yang berulang-ulang terutama pada pemakaian pertama
§  Observasi adanya perdarahan masiv Di dalam jaringan bawah kulit
3
Infeksi
§  Penurunan imun orang HD
§  luka operasi terkena air
§  Jika AV-Shun sudah dipakai bisa karena akses yang tidak steril
§  Peralatan operasi yang tidak bersih
§  Trauma
§  Adanya aliran balik vena yang terganggu karena trombosis
§  Biasanya terjadi bila operasi berlangsung sulit dan lama ( > 1,5 jam ) dengan luka operasi yang besar ( > 10-15 cm )
§  Luka operasi yang masih basah terkena air (lembab )
§  kolaborasi dengan dokter bedah untuk pemberian terafi
§  Hindarai luka operasi terkena air
§  penutupan av-shunt jika komplikasi lain dari infeksi spt anerisma
4
Anerisma Vena
Anerisma merupakan perubahan yang wajar jika jaringan kulit masih dinggap kuat dan tidak terjadi secara terlokalisir di suatu tempat dengan pembengkakan yang menonjol.
§  Karena tekanan darah vena menjadi tinggi oleh aliran darah arteri
§  penusukan yang berulang-ulang di suatu tempat
§  Trauma
§  Hipertensi
§  Hindari penusukan di area yang sama
§  Lakukan penusukan jauh dari area operasi jika baruit atau trill cukup besar
§  Hindari tekanan yang berlebih pada area AV-Shunt
§  Cegah infeksi
§  Menjaga supaya hipertensi terkontrol
§  Hindari overhidrasi berat
5
Trombosis
§  Kesalahan prosedur operasi
§  Darah yang mudah beku ( hiperkoagulasi )
§  Trauma tekanan yang lama
§  Penekanan pada area AV-Shunt atau pada pembuluh darah vena yang dianastomosis
§  Hipovolemia ( muntah, diare, hipotensi)
§  Penekanan pada area vena yang dianastomosis atau penekanan langsung pada area anastomosisnya
§  Laporkan ke ahli bedah
§  Heparinisasi yang efektif saat hemodialisisi
§  hindari terjadinya hipotensi terutama pada AV-Shunt yang baru
§  jelaskan pada pasien bagaimana penekana pada area AV-Shunt akan mempunyai dampak buruk pada hasil operasi.
6
Adanya rasa dingin, nyeri kesemutan,kelemahan otot pada bagian distal dari luka operasi AV-Shunt
Terjadi karena aliran darah arteri yang mensuplai darah ke bagian distal dari AV-Shunt tercuri oleh adanya anastomosis sehingga terjadi iskemia jaringan. Selain itu dimungkinkan juga karena a.radilais dan a.ulnaris yang tersumbat karena trombosis.
§  Segera laporkan ke ahli bedah dan kemungkinan dilakukan penutupan AV-Shunt
§  observasi lebih lanjut tanda – tanda iskemia jaringan.
7
Post HD Akses Lama Berhenti
§  Penusukan di jaringan atau tempat yang sama
§  Trombositopenia
§  Aliran AV-Shunt yang Kencang
§  Hipertensi
§  Lakukan Penekanan 15-30 menit post akses dilepas
§  Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan antikoagulan, bisanya dilakukan penekanan dengan deper yang telah di tetesi adrenalin / transamin.
§  Di luar negri ada plister yang bernama Microporus polysaccharide Partikeles, dimana plister ini dapat menyerap plasma darah sehingga pembekuan diharapkan akan makin cepat.
§  Jika tidak tertangani obserpasi lanjutan post HD sebaiknya di lakukan di RS karena ditakutkan terjadi perdarahan di rumah.
1.        
A.      
                    i.             
a.      Kapan AV – Shunt di Gunakan Perawat
1.       Penggunaaan AV-Shunt biasanya di rekomendasikan oleh ahli bedahnya
2.      Sebagai pertimbangan bahwa pernyembuhan pembuluh darah yang lengkap atau sempurna terjadi pada akhir minggu ke lima atau 35 hari setelah operasi, sedangkan luka jaringan kulit sudah kering mulai 2 hari post operasi dan penyembuhan epitel luka kulit terjadi pada akhir minggu ke dua.
3.      Apabila setelah waktu yang ditentukan ( direkomendasikan ) ahli bedah perawat belum bisa atau belum cukup berani menggunakan AV-Shunt yang biasanya disebabkan oleh :aliran darah vena ( bruit/tril ) masih kecil, pembuluh darah vena belum nampak saat di inspeksi,palpasi dan pembengkakan, maka laporkan ke ahli bedah dan sarankan pasien untuk kembali melakukan latihan diantarnya dengan mengepal-ngepalkan tangan dan digunakan untuk aktivitas biasa.
4.      Berdasarkan Penelitian dari Prof.Hendro S.Y dr.Sp.B-KBV.Ph.D dan dr.Marven dalam Skripsi S-2 Kedokterannya menunjukan bahwa penggunaan AV-Shunt untuk HD kurang dari 7 hari setelah operasi dibandingkan dengan lebih dari 7 hari setelah operasi secara statistik menunjukan perbedaan yang tidak nyata dalam hal terjadinya komplikasi tromboisi,perdarahan dan infeksi. Berdasarkan penelitian tersebut maka AV-Shunt dapat digunakan sesegeramungkin untuk HD apalagi untuk pasien dengan kedua femoral yang sudah bengkak dan tidak terpasang sub clavia dengan pertimbangan lain yang disebutkan sebelumnya.
( Ronco. 2004, Sumer DS. 1987, Suzane C.2002,Yuwono HS. 2008 1-10, Doengoes.2000,Capernito.1998 )
1.        
A.      
                    i.             
a.      Bagaimana akses Anda Bekerja
Sebuah hemodialisis akses, atau akses vaskular, adalah cara untuk mencapai darah untuk hemodialisis. Memungkinkan akses untuk melakukan perjalanan darah melalui tabung lembut ke mesin dialisis dibersihkan di mana saat melewati filter khusus, yang disebut dialyzer. Akses ditempatkan oleh operasi kecil. Sebagai pasien hemodialisis, akses Anda adalah salah satu dari berikut ini:
1.       A fistula, akses yang dibuat oleh bergabung arteri dan vena di lengan Anda.
2.      A cangkok, akses yang dibuat dengan menggunakan sepotong tabung lembut untuk bergabung dengan sebuah arteri dan vena di lengan Anda.
3.      Sebuah kateter, tabung lembut yang ditempatkan dalam pembuluh darah besar, biasanya di leher Anda.

Jika akses adalah fistula atau cangkok, perawat atau teknisi akan menempatkan dua jarum ke akses di setiap awal pengobatan. Jarum ini tersambung ke tabung lunak yang masuk ke mesin dialisis. Darah Anda pergi ke mesin melalui salah satu tabung, akan dibersihkan dalam dialyzer, dan kembali ke Anda melalui tabung lain. Jika Anda adalah kateter akses, dapat dihubungkan langsung ke tabung dialisis tanpa menggunakan jarum.

Suatu fistula harus dianggap sebagai pilihan pertama bagi akses Anda karena umumnya berlangsung lebih lama dan memiliki lebih sedikit masalah seperti infeksi dan pembekuan darah. Namun, beberapa pasien mungkin tidak dapat menerima fistula karena pembuluh darah mereka tidak cukup kuat. Sebuah korupsi dianggap sebagai pilihan kedua untuk jalur akses. Kateter biasanya digunakan sebagai akses sementara, tapi kadang-kadang mereka adalah permanen. Kadang-kadang, mungkin ada kemungkinan untuk beralih ke fistula dari jenis lain akses.
 Jika Anda tidak memiliki fistula, tanyakan kepada tim perawatan dialisis jika sebuah tombol akan mungkin bagi Anda.
Caring For Your Access

Apakah akses anda adalah fistula, cangkok atau kateter, Anda harus memastikan untuk mengurusnya baik. Tim perawatan dialisis Anda akan mengajarkan anda langkah-langkah perawatan akses yang baik. Bagan di bawah ini memberikan anda beberapa tips umum tentang perawatan akses sehari-hari dan bagaimana mencegah masalah.
Fistula atau Graft
1.       Cucilah dengan sabun antibakteri setiap hari, dan selalu sebelum dialisis. Jangan menggaruk kulit Anda atau pilih berkeropeng.
2.      Periksa kemerahan, perasaan kelebihan kehangatan atau awal dari sebuah jerawat di bidang apapun akses Anda.
3.      Tanyakan kepada tim perawatan dialisis untuk memutar jarum ketika Anda memiliki perawatan dialisis.
Kateter
1.       Simpanlah kateter berpakaian bersih dan kering.
2.      Pastikan area akses sudah dibersihkan dan ganti diubah oleh tim
3.      perawatan Anda pada setiap sesi dialisis.
4.      Simpanlah sebuah kit ganti darurat di rumah Jika anda perlu mengubah rias antara perlakuan.
5.      Jangan pernah membuka kateter ke udara.

Menjaga Akses Anda Bekerja
Tim perawatan dialisis Anda akan memeriksa akses Anda sering untuk memastikan bekerja dengan baik. Akses yang tidak bekerja dengan baik dapat mengurangi jumlah dialisis yang Anda terima. Tim perawatan dialisis Anda akan mengajarkan anda bagaimana untuk memeriksa fistula atau korupsi di rumah setiap hari. Berikut adalah beberapa tips Anda harus mengikuti untuk membantu menjaga fistula atau cangkok bekerja lagi:
1.       Periksa aliran darah beberapa kali setiap hari dengan perasaan getaran, juga disebut denyut nadi atau getaran. Jika Anda tidak merasa ini, atau jika ada perubahan, hubungi dokter atau pusat dialisis Anda.
2.      Jangan memakai pakaian ketat atau perhiasan di lengan akses Anda.
3.      Jangan membawa barang-barang berat atau melakukan apa pun yang akan memberikan tekanan pada akses.
4.      Jangan tidur dengan kepala di lengan yang memiliki akses Anda.
5.      Jangan biarkan orang menggunakan alat pengukur tekanan darah di lengan akses Anda.
6.      Jangan biarkan orang mengambil darah dari lengan akses Anda.
7.      Jangan takut untuk meminta tim perawatan dialisis Anda untuk memutar jarum situs.
8.     Terapkan hanya tekanan lembut untuk situs akses setelah jarum dihilangkan. Terlalu banyak tekanan akan menghentikan aliran darah melalui akses.
9.      Jika Anda memiliki terobosan pendarahan setelah Anda dialisis, berlaku lembut tekanan untuk situs jarum dengan handuk bersih atau kain kasa pad. Jika pendarahan tidak berhenti dalam 30 menit, hubungi dokter atau pusat dialisis Anda.
Jika Terjadi Masalah Akses
Kadang-kadang, bahkan ketika Anda sangat hati-hati, akses Anda mungkin gumpalan atau menjadi terinfeksi. Jika terjadi infeksi, dokter akan memesan antibiotik untuk Anda. Jika Anda mengembangkan suatu gumpalan akses, Anda mungkin perlu untuk pergi ke rumah sakit untuk perawatan. Mengeluarkan bekuan biasanya dapat dilakukan pada pasien rawat jalan dasar, dan Anda tidak perlu menginap.